Senin, 10 November 2008
Gus Dur adalah tuhan!
Gus Dur, seorang manusia sederhana, tetapi memiliki pemikiran yang cerdas, bahkan mungkin bisa dikatakan sangat cerdas untuk ukuran masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang (maaf) tolol, mungkin akan tertawa dan cengar cengir jika mendengar nama Gus Dur. Hal itu mungkin dianggap wajar oleh sebagian masyarakat tolol lainnya, karena mereka (yang tolol tersebut) hanya melihat Gus Dur dari perspektif yang sempit. Mereka tidak mampu (atau tidak mau) melihat dan menyelami tentang siapa Gus Dur sebenarnya. Hal tersebut diperparah dengan sikap dan perbuatan kelompok-kelompok yang nota bene tidak menyukai dan berseberangan dengan Gus Dur. Kelompok-kelompok tersebut acap kali melontarkan pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan Gus Dur dengan contoh-contoh yang tidak masuk di akal manusia yang waras! Nah, mengapa masyarakat bisa termakan pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan Gus Dur tersebut? padahal, seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa hal tersebut tidak masuk di akal manusia yang waras. Karena, ya itu tadi, mereka itu adalah manusia tolol.
Gus Dur, walaupun seorang berdarah biru, namun terpanggil untuk meraih tangan-tangan yang menggapai untuk meraih pertolongan. Gus Dur terpanggil untuk merangkul dan melindungi anak-anak manusia dan kelompok-kelompok yang tertindas. Gus Dur, begitu diangungkan dan dituruti oleh jutaan pengikutnya, sehingga apabila Gus Dur mengatakan langit berwarna jingga, pengikutnya pasti mengatakan langit itu berwarna jingga!
Cucu mendiang K.H. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini, sangat peduli terhadap siapapun dan kelompok manapun yang merasa dizalimi, beliau tidak perduli mereka dari suku atau agama apapun, apabila mereka meminta pertolongan, Gus Dur pasti langsung berada di depan mereka yang dizalimi tersebut.
Selain banyolannya, Gus Dur terkenal dengan omongannya yang ceplas-ceplos, pedas, menggigit dan membuat sebagian orang merasa gerah dan kebakaran jenggot, tak perduli siapapun, baik pemerintah maupun para pejabat, jika Gus Dur sedang hot, pasti langsung nyemprot!
Saya mengenal cucu pendiri Nahdatul Ulama ini sekitar 8 tahun yang lalu melalui televisi dan koran, awalnya saya merasa heran dengan tokoh yang satu ini, akan tetapi, setelah menelusuri dan mencari tahu siapa Gus Dur yang sebenarnya, saya langsung takjub dan mengidolakan beliau.
Dari sedikit tokoh cerdas di republik ini, saya tetap memberikan apresiasi yang paling tinggi terhadap Gus Dur, dan bahkan saat ini saya menganggap Gus Dur adalah tuhan!
08/11/2008 artikel ini merupakan asumsi pribadi penulis
bersambung…..
Senin, 14 April 2008
Rocker Gagal
“
Dua hari Festival Musik Rock se-kota Bandung akhir Desember 1996. Sepertinya akulah yang paling berambisi untuk memenangkan festival ini. “Kita harus menang! Setidaknya lima besar, band kita pasti terkenal!” Luapan semangatku didukung ketiga temanku. Dukungan setengah hati dari orang tuaku terhadap cita-citaku bermusik, membuat aku ingin sekali membuktikan bahwa mereka tidak perlu merasa sia-sia telah mengeluarkan banyak uang untuk kuliah yg aku jalani asal-asalan dan tidak serius, karena aku lebih memilih bermusik. Aku ingin orang tuaku melihat aku sukses, walaupun hanya di bidang musik.
Kami kerahkan seluruh kemampuan kami, Whole lotta love-nya Led Zeppelin, dan lagu ciptaan kami sendiri Long Revolution disambut meriah oleh penonton. Turun panggung, Toni menenteng Gibson Les Paul-nya, Richard menyelipkan kedua stick di pinggangnya, Willy kelihatan lebih tenang, aku masih mengatur napas, walaupun pakaian kami basah keringat tapi kami puas. Aku nyaris tidak percaya, dan teman-temanku berusaha keras menahan diri untuk meluapkan rasa bahagia, namun isakan bahagia Willy terlihat di bahunya yang bergerak turun naik, kami berpelukan erat karena Venceremos diumumkan sebagai pemenang II dan mendapat kesempatan untuk rekaman! lagu kami long revolution akan masuk dalam album kompilasi! Thanks God… ucapku berulang-ulang dalam hati.
* * *
Kami minum terlalu banyak, tapi kemenangan kami ini memang layak dirayakan. Dengan pandangan yang semakin kabur dan mulai berbayang-bayang, aku menoleh ke kanan melihat tubuh Richard sudah tergeletak dan ia mendengkur di sofa, sementara di depanku beralaskan karpet Toni dan Willy bermain play station sambil tertawa terbahak-bahak, mungkin mereka tidak tahu lagi tombol mana yang seharusnya di pencet, pikirku sekenanya. Party yang asik, gumamku. Semoga saja orang tua Richard tidak tahu apa yang kami lakukan saat ini jika mereka tiba esok sore dari Jakarta. Aku menarik napas panjang lalu dengan susah payah meraih gelas dan meneguk sampai habis sisa Vodka, masih ada beberapa botol lagi Vodka dan Red Label di atas meja.
Aku merasakan kedekatan Toni dan Willy semakin erat akhir-akhir ini. Toni salah satu sahabat dekatku sejak masuk kuliah, selain Richard tentunya. Permainan gitar Toni sungguh luar biasa, kami mempunyai mimpi yang sama di dunia musik. Bergabungnya Willy membuat mimpi kami semakin nyata, kurasa Willy adalah teman yang baik juga, dan kesempatan kami meniti karir di dunia musik semakin terbuka lebar. Kepalaku semakin berat dan mataku hampir terpejam saat sekilas aku melihat Toni dan Willy berjalan terhuyung meninggalkan ruang tamu. Eh, mau kemana mereka berdua ya, namun aku meyakinkan diri bahwa aku tidak perlu merasa iri melihat akrabnya mereka. Wooi.. party-nya di sini, ayo bantu aku menghabiskan minuman ini, tapi tidak ada suara yang keluar dari bibirku. Aku terlalu mabuk.
* * *
“Willy pergi dengan Toni tadi sore, mereka mau lihat gitar bas untuk Willy,” kakaknya memberikan jawaban yang tentu saja membuat aku maklum, “Terima kasih mbak,” sahutku malas sambil menutup telepon. “Tiga ratus” kata pemilik wartel. Aku pulang ke kost, mengunci pintu kamar, memandangi poster Robert Plant, kemudian “melayang” dengan beberapa linting ganja. Malam ini akan sangat panjang, karena anganku akan menerawang jauh sekali.
* * *
Aku ingin menghibur Willy, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku tak dapat berfikir, sementara dia masih saja menangis, sungguh tragis yang baru saja diceritakannya padaku. “Orang tuamu tahu?” akhirnya keluar juga suara dari mulutku. Dia cuma menggeleng. "Kakakmu?" tanyaku lagi. Dia kembali menggelang, nampak pucat dan lelah di wajahnya. “Bangsat kau Toni, pengecut” umpatku dalam hati sambil menahan amarah. “Sekarang kamu istirahat aja dulu ya, nanti akan kita pikirkan jalan keluarnya,” hanya itu saran yang dapat aku berikan padanya. Selama dia tidur di kamar kostku, hatiku masih terbakar amarah pada Toni. Bajingan, Pengecut! umpat hatiku entah yang keberapa puluh kalinya. ”Ohh..apa yang akan terjadi pada band kami ini, padahal proses rekaman tinggal beberapa hari lagi”, gumamku.
* * *
Anak ketigaku lahir dengan selamat di RSU Surabaya lima hari yang lalu, aku menamainya Indian Princes. Istriku berbaring sambil menyusui Indian di kamar tidur kami. Camelot dan Louis, putra pertama dan kedua kami saling berebut ingin paling dekat ke Indian,. “Papa dan mama jadi datang?” tiba-tiba istriku bertanya. “Ya, mungkin sore ini sampai. Kedua orang tuamu berangkat dari Pekanbaru tadi siang, tapi sayangnya ayahku tak bisa datang, tadi ibuku menelepon, ibuku sendirian akan datang besok pagi dari Jakarta” jawabku. Camelot keluar kamar, lalu masuk kembali dengan gitar plastik mainannya. “Mama, Camel mau mainin lagu untuk Indi. Lihat Pa, Camel sudah bisa” katanya sambil menarik-narik senar gitarnya. Aku dan istriku tersenyum.
* * *
Hampir enam tahun kami menetap di Surabaya, setelah menikah dan menyelesaikan kuliah aku tidak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik selama dua tahun di Bandung. Pernikahanku yang awalnya tidak direstui oleh orang tuaku dan susahnya mendapat pekerjaan bagi sarjana yang baru lulus, membuatku semakin berat menjalani tanggung jawab keluarga ini. Empat kali seminggu aku main di beberapa café yang lumayan terkenal, bernyanyi sambil memainkan gitar. Pekerjaan ini kuperoleh atas kebaikan seorang teman yang merekomendasikan aku kepada pemilik café-café tersebut. Hasil dari pekerjaanku ini cukup membiayai keluargaku, selain penghasilan dari warung kecil yang menyatu dengan rumah kami.
Aku masih sangat ingin merilis lagu, dan sangat menyesali bubarnya band kami, padahal rekaman album kompilasi hanya tinggal beberapa hari lagi tapi kami sudah keburu bubar. Aku juga merasa bersalah kepada Richard karena tidak pernah mau memberi jawaban yang sebenarnya jika dia bertanya mengapa kami harus bubar. Salah satu hal yang membuat aku masih tetap bersemangat main gitar dan bernyanyi hingga saat ini karena Camelot, yang baru duduk di kelas dua SD.
Hingga saat ini hanya aku dan istriku serta seseorang – entah dimana dia – yang tahu peristiwa sepuluh tahun yang lalu di kota Bandung. Aku yakin, sama seperti diriku, istriku juga pasti ingat seseorang yang matanya sangat mirip dengan Camelot.
Aku mencintai kalian lebih dari apapun, kataku dalam hati dan mengecup kening istriku sembari tangan kiriku merangkul Camelot. Lalu aku keluar dari kamar menuju ruang tamu, pandanganku terbentur pada tape di atas meja, kemudian tanganku meraih kaset album Kiss. Hard luck woman mengalun di ruang tamu. Aku teringat sesuatu, lalu berdiri meraih bekas kotak sepatu di atas lemari. Kubuka, masih ada beberapa sisa kaset demo lagu kami sepuluh tahun yang lalu. Kuambil satu, kubaca sampul kasetnya, nama band, judul lagu, empat nama dan tanggal tertera di sampul kaset tersebut; Venceremos, long revolution, Randy Subagdja, Antonio Nugroho, Richardus Budiman, Willyani Lestari, 23 Februari 1997.
Saat aku menoleh ke kamar, kulihat Willy masih menyusui Indian sambil membelai kepala Camelot yang memegang gitar plastiknya…
Dedicated to women who ever married by accident. Don’t ever give up! We love U.
- donwill panggabean -
chameleon.king@gmail.com
Jumat, 11 April 2008
Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia Perlu Direvisi
untuk lebih jelasnya, lihat di: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0609/20/ipt01.html
P ada akhir 1996, atas inisiatif Bappenas terbentuklah Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumber Daya Ikan Laut. Oleh komisi tersebut, perairan dan laut Indonesia untuk pemanfaatan sumber daya perikanan dibagi menjadi sembilan Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yaitu (1) Selat Malaka; (2) Laut Cina Selatan; (3) Laut Jawa; (4) Laut Flores dan Selat Makassar; (5) Laut Banda; (6) Laut Arafura; (7) Laut Seram dan Teluk Tomini; (8) Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik; dan (9) Samudera Hindia.
Pembagian WPP ini oleh Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut lebih ditujukan untuk memudahkan sistem pendataan yang selanjutnya digunakan untuk estimasi (pendugaan) stok. Pembagian WPP ini lebih didasarkan pada daerah tempat ikan hasil tangkapan didaratkan di pelabuhan.
Hal ini memiliki kelemahan, karena data yang didapat ternyata memiliki bias dan tidak akurat sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam estimasi. Ini ditambah lagi dengan illegal fishing oleh nelayan asing dan transaksi hasil tangkapan di tengah laut yang tentu saja semakin mengacaukan data stok sumber daya ikan tersebut. Jumlah pelabuhan perikanan masih jauh dari cukup, dan memiliki kesenjangan yang sangat besar antara kawasan barat dengan kawasan timur
Contoh kerancuan, adanya anggapan WPP Laut Jawa memiliki produksi tuna yang tinggi, padahal tuna tersebut sebenarnya berasal dari Samudra Hindia dan Samudera Pasifik (utara Papua). Tuna tersebut seakan-akan berasal dari Laut Jawa karena didaratkan di Pelabuhan Muara Baru
Kendala Perikanan
Di perairan
Pada perairan Samudera Hindia (termasuk di dalamnya perairan barat Sumatera, selatan Jawa,
Pemanfaatan sumber daya perikanan dihadapkan pada beberapa kendala yang cukup serius, di antaranya (1) sumber daya ikan bersifat tidak terlihat, (2) milik bersama, (3) berisiko tinggi, dan (4) mudah rusak.
Sumber daya ikan tidak tampak secara langsung oleh mata manusia (invisible), karena habitat ikan dan manusia berbeda. Namun, perbedaan media (habitat) ini dapat diantisipasi dengan mempelajari tingkah laku ikan (fish behaviour) yang akan ditangkap serta memperdalam pemahaman penggunaan alat bantu pendeteksi keberadaan ikan (echosounder, fish finder, dan sonar). Maka, pengetahuan tentang tingkah laku ikan perlu ditingkatkan, sehingga nantinya dapat menghemat biaya operasional.
Perairan dan laut yang merupakan habitat bagi ikan adalah milik umum (common property), perairan dan laut tersebut tidak mungkin dikaveling seperti halnya daratan, sehingga siapapun dapat memanfaatkan sumber daya ikan yang ada.
Akan tetapi, perebutan lokasi penangkapan ikan yang potensial dapat saja terjadi. Oleh karena itu, diperlukan suatu peraturan dan atau undang-undang untuk mengatasinya.
Usaha penangkapan ikan merupakan usaha yang berisiko tinggi (high risk), karena dilakukan di laut dengan kondisi yang sulit dikontrol. Untuk mengurangi risiko kerja dan agar hasil tangkapan yang diperoleh sesuai dengan harapan, pengetahuan tentang teknologi penangkapan dan keselamatan kerja di atas kapal sangat diperlukan.
Komoditas ikan merupakan produk yang cepat rusak (highly perishable), untuk menjaga agar mutu dapat dipertahankan, pascapanen perlu mendapatkan perlakuan yang serius. Perlu pertimbangan yang matang untuk mengantisipasi jarak antara lokasi penangkapan (fishing ground) dengan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) ataupun pelabuhan perikanan.
Revisi
Sebagaimana kita ketahui, pada umumnya nelayan di Indonesia masih bersifat tradisional dengan jumlah dan kondisi armada penangkapan yang kurang mendukung, di antaranya tidak tersedianya mesin penghasil es untuk pendingin ikan hasil tangkapan pada kapal penangkapan.
Apabila jarak lokasi penangkapan dengan TPI atau pelabuhan perikanan terlalu jauh, nelayan akan mengalami kerugian besar atas ikan tuna hasil tangkapan karena ikan tuna tersebut akan busuk.
Dari paparan di atas, perlu kiranya tindak lanjut pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan beserta dukungan instansi terkait lainnya untuk mengkaji ulang WPP laut Indonesia serta menambah jumlah pelabuhan perikanan khususnya di kawasan timur Indonesia. WPP laut Indonesia sebaiknya direvisi dan ditingkatkan jumlahnya menjadi 11, terutama untuk WPP 9 yang memiliki area terlalu luas dengan jumlah pelabuhan tidak merata.
Estimasi Target Strength dan Densitas Ikan Pelagis Kecil di Perairan Laut Timor dan Selat Ombai dengan Menggunakan Split Beam Acoustic System
untuk lebih jelasnya, lihat di: http://www.brkp.dkp.go.id/jurnal.php
Riset akustik ini merupakan bagian dari Program International Nusantara Stratification and Transport (INSTANT) yang diprakarsai oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan (BRKP-DKP). Riset ini tujuan utamanya adalah deploy buoy serta pengukuran, dan memetakan parameter oseanografi di perairan Indonesia, namun dilakukan juga riset akustik, biologi dan kimia perairan. Riset akustik untuk estimasi densitas ikan pelagis kecil ini merupakan INSTANT Cruise Leg 1, dilakukan pada dua lokasi perairan yaitu perairan Laut Timor (tanggal 26-30 Desember 2003) dan perairan Selat Ombai (tanggal 3-7 Januari 2004). Riset ini bertujuan untuk mengestimasi target strength dan memetakan densitas ikan, khususnya ikan pelagis kecil serta mengkaitkannya dengan suhu dan salinitas. Kapal yang digunakan untuk riset ini adalah KR. Baruna Jaya VIII, beserta instrumen akustik dan oseanografi. Metode yang digunakan adalah survei akustik dengan cruise berpola partly random design menggunakan intrumen scientific echosounder Simrad EK-500 frekwensi 38 kHz untuk mengetahui nilai target strength, dari nilai target strength tersebut diketahui nilai densitas ikan pelagis kecil di perairan Laut Timor dan perairan Selat Ombai. Hasil analisis yang dilakukan pada data akustik perairan Laut Timor memperlihatkan nilai target strength untuk seluruh strata kedalaman (4-45 m) berkisar antara -68 dB sampai -35,5 dB dengan total target strength yang terdeteksi di Laut Timor sebanyak 79.159 target. Total densitas ikan pelagis kecil yang dideteksi untuk 170 seluruh strata kedalaman (4-45 m) adalah sebesar 4.279 ekor/1000m3, dimana pada strata kedalaman I (4-15 m) densitas ikan adalah sebesar 1.517 ekor/10003, strata kedalaman II (15-30 m) sebesar 1.669 ekor/10003 dan pada strata kedalaman III (30-45 m) sebesar 1.094 ekor/1000m3. Dari hasil pengukuran terhadap parameter oseanografi yaitu suhu dan salinitas secara vertikal diperairan Laut Timor, diperoleh nilai suhu yang berkisar antara 25,11 oC - 29,88 oC, sedangkan nilai salinitas yang diperoleh berkisar antara 28,76 psu - 34,68 psu. Dari hasil analisis data akustik perairan Selat Ombai memperlihatkan nilai target strength untuk seluruh strata kedalaman tersebut berkisar antara -68 dB sampai -32 dB dengan total target strength sebanyak 22.104 target. Total densitas ikan pelagis kecil yang dideteksi untuk seluruh strata kedalaman (4-45 m) adalah sebesar 50.308 ekor/1000m3, dimana pada strata kedalaman I (4-15 m) densitas ikan adalah sebesar 9.482 ekor/10003, strata kedalaman II (15-30 m) sebesar 32.586 ekor/10003 dan pada strata kedalaman III (30-45 m) sebesar 8.240 ekor/1000m3. Pada perairan Selat Ombai, kisaran suhu secara vertikal adalah antara 26,5 oC - 29,5 oC, sedangkan salinitas berkisar antara 31,5 psu - 34,5 psu.
Peneliti : Donwill Panggabean
Peneliti Indonesia, Terjerembab di ”Rumah Sendiri”
Untuk lebih jelasnya, lihat di: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0508/03/ipt02.html
Sungguh ironis, sebagian besar peneliti Indonesia ternyata belum mampu bekerja optimal mencapai tujuan yang diinginkan. Ini terjadi karena mereka melakukan riset dalam kondisi yang tidak kondusif dan kurang mendukung.
Banyak yang menganggap bahwa puncak kesuksesan penelitian pada era pemerintahan Habibie. Pemerintah melalui Departemen Riset dan Teknologi dinilai mampu mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas para peneliti serta produk teknologi. Padahal, jika kita mau menilai secara obyektif dan cermat, anggapan di atas tidak seluruhnya terbukti.
Pada era tersebut, dunia penelitian di Indonesia sebenarnya hanya mengalami euforia yang tidak rasional, ditambah lagi statement yang menyatakan Indonesia beralih dari negara agraris-bahari menjadi industri. Ini dapat dilihat dari sangat sedikitnya penelitian bergengsi yang telah dilakukan, yang mencerminkan rendahnya skill dan kualitas peneliti kita, serta dari output produk yang memprihatinkan, karena sedikitnya pihak asing yang mau menggunakan produk kita.
Pada dasarnya masalah paling krusial yang tengah dihadapi dunia penelitian di Indonesia adalah seperti uraian berikut ini:
Keterbatasan dana, sarana dan minimnya laporan penelitian (paper ilmiah).
Di lapangan peneliti kita selalu menjerit dalam masalah dana, termasuk sarana. Selanjutnya dapat ditebak, penelitian yang dilakukan tidak akan memberikan hasil yang optimal dan tidak dapat memenuhi tujuan awal penelitian tersebut.
Banyaknya institusi penelitian dan kurangnya sinergi.
Banyak institusi penelitian, sebagian diantaranya adalah: LIPI, BPPT, BRKP-DKP, Bakosurtanal, BATAN, LAPAN, Dishidros, Departemen Ristek, lembaga penelitian dan pusat kajian di tiap-tiap universitas negeri maupun swasta, namun lembaga-lembaga penelitian tersebut jarang melakukan koordinasi dan komunikasi. Akibatnya sering terjadi tumpang tindih penelitian, sehingga hanya berapa topik penelitian yang akhirnya dikerjakan dalam setahun. Selain itu, pengamat melihat sering terjadinya persaingan tidak sehat (biasanya dalam melakukan kerjasama dengan pihak asing yang nantinya akan menghasilkan dana) antar institusi penelitian.
Buruknya mental dan moral para peneliti.
Ini terlihat dari kondisi “research for money.” Mungkin bukan kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi penelitian di Indonesia, namun masih ada sebagian peneliti yang meng-implementasikan kalimat tersebut. Peneliti seperti ini mementingkan research fee yang akan mereka terima karena namanya tercantum sebagai collaborator. Sedangkan untuk paper ilmiah (yang merupakan bahan publikasi) mereka cukup puas jika tertera sebagai penulis ke tiga, karena di benak mereka yang tersirat hanya untuk mendapatkan uang.
Banyak peneliti cerdas dan berprestasi yang enggan pulang.
Mereka diabaikan dan tidak mendapat tempat yang layak saat kembali ke Indonesia. Padahal, pada saat melakukan riset untuk menyelesaikan studi master dan doktor, banyak diantara mereka yang mendapat penghargaan, bahkan ditawarkan untuk bekerja di universitas atau negara tempat menimba ilmu tersebut. Mereka disini mendapat fasilitas yang tidak memadai, minimnya dana penelitian dan senioritasme yang masih mendarah daging.
Buruknya manajemen.
Salah satu faktor yang sangat menentukan dalam dunia pendidikan adalah manajemen. Ini dapat dilihat dari buruknya perlakuan yang dilakukan pada prosedur kerjasama penelitian dengan negara asing. Bila kita telaah lebih jauh, akan kita dapati sembrono-nya sebagian para penentu kebijakan dan pembuat keputusan. Biasanya mereka tidak mau tahu prosedur yang akan disepakati hingga ke detailnya karena mereka menganggap itu hanya tetek-bengek yang tidak perlu.
Sekarang, tergantung pada penilaian akademisi, para pakar, termasuk juga politisi dan terutama masyarakat Indonesia untuk menyikapi apa yang salah disini. Akan tetapi perlu di ingat, masalah ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama, maka seyogyanya kita bersama-sama pula memikirkan, menyelesaikan dan memperbaiki, sehingga tidak sampai terlontar anekdot yang menyatakan bahwa peneliti kita terjerembap di ”rumah sendiri”.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana, Program Studi Teknologi Kelautan IPB
Menentukan Lokasi Tangkap Ikan dengan Kolaborasi Tiga Teknologi
untuk lebih jelasnya, lihat di: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0502/23/ipt02.html
Di Indonesia, perkembangan dan pemanfaatan teknologi khususnya pada industri kelautan dan perikanan masih kurang menggembirakan, hal ini dapat dilihat dari minimnya perusahaan sektor kelautan dan perikanan ini yang mampu melengkapi armada penangkapannya dengan peralatan berteknologi maju.
Sementara, nelayan Thailand, Filipina dan Malaysia dengan perangkat acoustic yaitu echosounder yang terpasang pada armada penangkapannya dan didukung informasi citra remote sensing (penginderaan jauh satelit), dapat mengetahui dengan jelas dan pasti posisi (koordinat) lintang-bujur kawanan ikan secara up to date, sehingga mereka bisa lebih dahulu mendapatkan sumber daya ikan, walaupun sampai masuk ke perairan kita. Sedangkan nelayan kita umumnya hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman.
Padahal, untuk mengatasi masalah tersebut scientist (peneliti) dan ahli teknologi bidang kelautan dan perikanan dengan dukungan pemerintah hanya perlu membangun satu instalasi bank data yang bekerja men-download citra dari satelit yang berisi data klorofil-a dan data parameter oseanografi (suhu, salinitas, arus, gelombang dan lain-lain) di perairan Indonesia, kemudian diolah menjadi peta estimasi (pendugaan) fishing ground (daerah penangkapan ikan) yang up to date. Selanjutnya peta estimasi tersebut langsung di-relay ke armada penangkapan.
Kolaborasi
Untuk keakuratan estimasi fishing ground, yang perlu dilakukan adalah mengkolaborasikan data acoustic, citra satelit remote sensing dan data oseanografi. adapun langkah dasarnya adalah: dengan metode remote sensing satelit, secara ex situ kita harus menemukan perairan yang memiliki klorofil-a (plankton). Langkah kedua adalah menganalisis hubungannya dengan data oseanografi (suhu, salinitas dan arus) yang juga didapatkan dari satelit dan instrumen oseanografi yaitu argo float. Kemudian hasil analisis data dari dua instrumen tersebut (satelit dan argo float) kemudian dibuat peta estimasi fishing ground yang up to date. Selanjutnya peta estimasi tersebut di-relay ke armada penangkapan, berbekal peta estimasi tersebut armada segera menuju lokasi yang telah diestimasi, lalu mengkolaborasikan peta tersebut dengan data acoustic yang didapatkan dengan echosounder secara in situ (langsung) pada perairan, kemudian dilakukan pemanfaatan (penangkapan) ikan.
Parameter oseanografi (data suhu, salinitas dan arus) sangat penting dianalisis untuk penentuan fishing ground. Nontji (1987) menyatakan suhu merupakan parameter oseanografi yang mempunyai pengaruh sangat dominan terhadap kehidupan ikan khususnya dan sumber daya hayati laut pada umumnya. Sebagian besar biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme (Nybakken, 1988). Hampir semua populasi ikan yang hidup di laut mempunyai suhu optimum untuk kehidupannya, maka dengan mengetahui suhu optimum dari suatu spesies ikan, kita dapat menduga keberadaan kelompok ikan, yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan perikanan (Hela dan Laevastu, 1970).
Salinitas adalah kadar garam seluruh zat yang larut dalam 1.000 gram air laut, dengan asumsi bahwa seluruh Karbonat telah diubah menjadi oksida, semua Brom dan Iod diganti dengan Khlor yang setara dan semua zat organik mengalami oksidasi sempurna (Forch et al., 1902 dalam Sverdrup et al., 1942). Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki kaitan erat dengan kehidupan organisme perairan termasuk ikan, di mana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut.
Arus sangat mempengaruhi penyebaran ikan, Laevastu dan Hayes (1981) menyatakan hubungan arus terhadap penyebaran ikan adalah: Arus mengalihkan telur-telur dan anak-anak ikan pelagis dari spawning ground (daerah pemijahan) ke nursery ground (daerah pembesaran) dan ke feeding ground (tempat mencari makan); migrasi ikan-ikan dewasa disebabkan arus, sebagai alat orientasi ikan dan sebagai bentuk rute alami; tingkah laku diurnal ikan dapat disebabkan arus, khususnya arus pasut; arus secara langsung dapat mempengaruhi distribusi ikan-ikan dewasa dan secara tidak langsung mempengaruhi pengelompokan makanan, atau faktor lain yang membatasinya (suhu); arus mempengaruhi lingkungan alami ikan, maka secara tidak langsung mempengaruhi kelimpahan ikan tertentu dan sebagai pembatas distribusi geografisnya. Jadi, dengan mengetahui nilai suhu, salinitas dan arus pada perairan, akan dapat dianalisis fenomena yang merupakan daerah potensi ikan.
Hydro Acoustic merupakan suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan suara atau bunyi untuk melakukan pendeteksian, sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di air adalah 1.500 m/detik, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/detik, sehingga teknologi ini sangat efektif untuk deteksi di bawah air. Teknologi hydro-acoustic dengan perangkat echosounder paling tepat digunakan untuk pendugaan stok ikan (fish stock assessment) pada suatu perairan, karena dapat memberikan informasi yang detail mengenai: kelimpahan ikan (fish abundance), kepadatan (fish density), sebaran (fish distribution), posisi kedalaman renang (swimming layers), ukuran dan panjang (size and length), orientasi dan kecepatan renang, serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan (baca: Donwill Panggabean ”Hydro-Acoustic: Teknologi canggih untuk eksplorasi dan menunjang eksploitasi sumber daya kelautan serta perikanan.” Kompas
Remote Sensing biasa juga disebut Sistem Penginderaan Jauh merupakan suatu teknologi yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mendeteksi dan mengetahui karakteristik objek di permukaan bumi, baik daratan maupun permukaan laut dan perairan tanpa melakukan kontak langsung dengan objek yang diteliti tersebut (Lillesand dan Kiefer, 1979).
Secara umum prinsip kerja satelit-satelit ini adalah dengan memancarkan pulsa gelombang elektromagnetik ke arah permukaan laut di bawahnya lalu menerima kembali pantulannya (remote sensing aktif). Waktu perjalanan gelombang elektromagnetik tersebut, dikonversi untuk mendapatkan jarak antara satelit dan muka laut. Sejumlah koreksi harus diterapkan terhadap data mentah, sebelum dapat diterapkan dalam bidang oseanografi.
Langkah Maju
Kini terbuka satu peluang untuk mewujudkan maksud dari uraian di atas, karena satu langkah maju telah dilakukan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) melalui Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP), dengan diresmikannya SEACORM (Southeast Asia Center for Ocean Research and Monitoring) pada 31 Maret 2004 di Perancak-Bali. SEACORM merupakan instalasi yang didukung 16 institusi nasional, di mana instalasi ini melakukan riset, analisis data dan pemantauan sumber daya kelautan untuk memenuhi beberapa tujuan program kerja yang antara lain: (1) Fishing Ground Map; (2) National Marine Data Center; (3) Indonesia Fisheries Information Center; (4) Indonesia Marine Observing System dan lain-lain. Instalasi ini men-download data dari beberapa satelit, mengolah dan menganalisis untuk estimasi fishing ground, kemudian me-relay data berupa estimasi fishing ground yang up to date tersebut beserta posisi koordinatnya melalui satelit yang dapat di-download kembali oleh perusahaan perikanan dan dapat pula dimanfaatkan nelayan melalui faksimile (bila tidak tersedia internet).
Saat workshop argo float di instalasi SEACORM Bali pada 10/12/2004 lalu, dapat dirasakan suatu keinginan para scientist dan ahli kelautan untuk bekerja optimal dan menjadikan instalasi SEACORM sebagai bank data untuk estimasi fishing ground di Indonesia. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan, semoga mereka dapat bekerja lebih keras untuk mewujudkan instalasi ini sesuai dengan tujuan awalnya, sehingga perusahaan perikanan dan nelayan kita dapat memanfaatkan sumber daya perikanan dengan optimal tanpa didahului nelayan asing.
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana, Program Studi Teknologi Kelautan IPB.
Hydro-acoustic 2
untuk lebih jelasnya, lihat di: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0501/19/ipt02.html
Hydro-acoustic: Melontar Suara, Mencari Ikan
Pada awalnya Acoustic System dikembangkan oleh Inggris pada masa pra-Perang Dunia II (PD II) dengan membuat ASDIC (Anti Sub-marine Detection Investigation Committee) yang terbukti sangat berguna bagi Angkatan Laut Negara-negara Sekutu pada PD II.
Setelah PD II berakhir, penggunaan akustik semakin berkembang luas untuk tujuan damai dan ilmiah, antara lain digunakan untuk; mempelajari proses perambatan suara pada medium air, penelitian sifat-sifat akustik dan benda-benda yang terdapat pada suatu perairan, komunikasi dan penentuan posisi di kolom perairan.
Selanjutnya perkembangan akustik semakin pesat pada awal dekade 70-an karena telah ditemukan Echo Integrator yang dapat menghasilkan nilai absolut untuk pendugaan dan estimasi bawah air.
Hydro-acoustic merupakan suatu teknologi pendeteksian bawah air dengan menggunakan perangkat akustik (acoustic instrument), antara lain; ECHOSOUNDER, FISHFINDER, SONAR dan ADCP (Acoustic Doppler Current Profiler). Teknologi ini menggunakan suara atau bunyi untuk melakukan pendeteksian.
Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan suara di air adalah 1.500 m/detik, sedangkan kecepatan suara di udara hanya 340 m/detik, sehingga teknologi ini sangat efektif untuk deteksi di bawah air.
Beberapa langkah dasar pendeteksian bawah air adalah adanya transmitter yang menghasilkan listrik dengan frekwensi tertentu. Kemudian disalurkan ke transducer yang akan mengubah energi listrik menjadi suara, kemudian suara tersebut dalam berbentuk pulsa suara dipancarkan (biasanya dengan satuan ping).
Suara yang dipancarkan tersebut akan mengenai obyek (target), kemudian suara itu akan dipantulkan kembali oleh obyek (dalam bentuk echo) dan diterima kembali oleh alat transducer. Echo tersebut diubah kembali menjadi energi listrik; lalu diteruskan ke receiver dan oleh mekanisme yang cukup rumit hingga terjadi pemprosesan dengan menggunakan echo signal processor dan echo integrator.
Pemrosesan didukung oleh peralatan lainnya; komputer; GPS (Global Positioning System), Colour Printer, software program dan kompas. Hasil akhir berupa data siap diinterpretasikan untuk bermacam-macam kegunaan yang diinginkan.
Bila dibandingkan dengan metode lainnya dalam hal estimasi atau pendugaan, teknologi hydro-acoustic memiliki kelebihan, antara lain. Informasi pada areal yang dideteksi dapat diperoleh secara cepat (real time). Dan secara langsung di wilayah deteksi (in situ).
Kelebihan lain adalah tidak perlu bergantung pada data statistik. Serta tidak berbahaya atau merusak objek yang diteliti (friendly), karena pendeteksian dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan suara (underwater sound).
Menurut MacLennan and Simmonds (1992) hasil estimasi populasi adalah nilai absolut. Hydro-acoustic dapat digunakan dalam mengukur dan menganalisa hampir semua yang terdapat di kolom dan dasar air, aplikasi teknologi ini untuk berbagai keperluan antara lain adalah; eksplorasi bahan tambang, minyak dan energi dasar laut (seismic survey), deteksi lokasi bangkai kapal (shipwreck location), estimasi biota laut, mengukur laju proses sedimentasi (sedimentation velocity), mengukur arus dalam kolom perairan (internal wave), mengukur kecepatan arus (current speed), mengukur kekeruhan perairan (turbidity) dan kontur dasar laut (bottom contour).
Saat ini, hydro-acoustic memiliki peran yang sangat besar dalam sektor kelautan dan perikanan, salah satunya adalah dalam pendugaan sumberdaya ikan (fish stock assessment). Teknologi hydro-acoustic dengan perangkat echosounder dapat memberikan informasi yang detail mengenai kelimpahan ikan, kepadatan ikan sebaran ikan, posisi kedalaman renang, ukuran dan panjang ikan, orientasi dan kecepatan renang ikan serta variasi migrasi diurnal-noktural ikan. Saat ini instrumen akustik berkembang semakin signifikan, dengan dikembangkannya varian yang lebih maju, yaitu Multibeam dan Omnidirectional.
Perangkat Echosounder memiliki berbagai macam tipe, yaitu single beam, dual beam
Negara-negara yang maju pada sektor kelautan-perikanan (Norwegia, Jepang, Amerika Serikat, China dan Peru) bergantung pada teknologi akustik ini. Mereka menggunakan untuk melakukan eksplorasi sumberdaya dengan cepat, sehingga dapat mengeksploitasi dengan optimal, efisien dan ekonomis karena biaya eksplorasi yang murah dan waktu eksplorasi yang cukup singkat.
Selain itu eksploitasi yang dilakukan dapat lebih berwawasan lingkungan, berkesinambungan dan lestari, sebab sudah diketahui dengan jelas berapa potensi sumberdaya yang akan di eksploitasi tersebut, hanya perlu memilih kebijakan apa yang paling tepat untuk pengelolaan yang berkesinambungan dan lestari tersebut.
Hingga sekarang, teknologi hydro-acoustic ini belum banyak digunakan pada sektor kelautan-perikanan
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Teknologi Kelautan IPB
